JAKARTA – Pelindo III menerapkan sistem Single Submission (SSm) atau sistem pelayanan satu pintu dan Joint Inspection sistem Single Submission (SSm) atau sistem pelayanan satu pintu dan Joint Inspection pada salah satu unit Terminal Petikemas ekspor/impor di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.

Direktur Operasi dan Komersial Pelindo III Putut Sri Muljanto mengatakan hal itu merupakan bentuk tindak lanjut dari Inpres No. 5/2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional. Sistem yang dipercaya dapat memangkas waktu dan biaya pengeluaran kontainer.

Sistem dengan penerapan tersebut Pengurus Jasa Kepabeanan (PPJK) cukup mengakses satu portal untuk pengajuan dokumen pabean dan karantina sekaligus.


(ADS) Smart Logistics Indonesia 2021 adalah pameran logistik terintegrasi. Jika anda tertarik untuk mempelajari dan mendapatkan informasi lebih lanjut silahkan download Sales Prospectus 2021 secara gratis klik di link ini dan jika tertarik menjadi eksibitor, tinggal klik link ini untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi +62 21 2263 8635 atau info@smartlogistics.id


“Dengan adanya joint inspection, tentunya akan memudahkan importir dan mengurangi biaya penanganan peti kemas impor seperti gerakan ekstra, Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) dan striping stuffing. Serta mengurangi dwelling time karena peti kemas akan langsung diperiksa oleh dua instansi yaitu karantina dan bea cukai pada lokasi dan waktu yang bersamaan,” jelasnya melalui keterangan resmi, Jumat (3/7/2020).

Sementara itu, Ketua Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Jateng Budiatmoko mengapresiasi penerapan sistem ini karena sebelumnya para importir harus mengajukan dua kali perizinan ke bea cukai dan karantina. Dengan implementasi sistem ini akan ada percepatan waktu dua hari dari sebelumnya tiga hari, sehingga menguntungkan importer.

Para importir berharap program ini dapat menjadi salah satu solusi yang tepat untuk memangkas waktu dan biaya pengeluaran kontainer.

“Langkah-langkah tersebut bisa diterapkan dengan baik dan bisa menjadi solusi untuk mendorong perekonomian indonesia khususnya di Jateng disaat pandemi Covid-19,” ujarnya.

Source : Bisnis.com


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Meski pandemi masih terus merajalela di berbagai kawasan di dunia, sejumlah negara di wilayah Asia telah menunjukkan pemulihan. Ini diindikasikan dari semakin sedikitnya jumlah kasus baru yang ditemukan di negara tersebut. Dengan memulihnya sejumlah negara dari wabah virus corona seperti yang terjadi di Republik Rakyat China dan Vietnam, hal tersebut juga dapat menjadi peluang untuk meningkatkan laju ekspor, terutama untuk sektor kelautan dan perikanan nasional.


(ADS) Smart Logistics Indonesia 2021 adalah pameran logistik terintegrasi. Jika anda tertarik untuk mempelajari dan mendapatkan informasi lebih lanjut silahkan download Sales Prospectus 2021 secara gratis klik di link ini dan jika tertarik menjadi eksibitor, tinggal klik link ini untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi +62 21 2263 8635


Untuk itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo mengajak berbagai pemangku kepentingan untuk terus mengoptimalkan produksi budidaya laut yang kerap menjadi komoditas ekspor seperti kakap putih, bawal bintang, dan udang vaname, serta rumput laut, pada masa pandemi ini. Menurut Edhy Prabowo, meski dalam suasana pandemi Covid-19, proses produksi tetap harus produktif yakni dengan menerapkan protokol kesehatan yang baik.

Dalam kunjungannya ke Kepulauan Seribu pada 19 Mei, Menteri Edy juga telah melakukan panen beberapa komoditas unggulan yakni kakap putih, bawal bintang sirip pendek, dan udang vaname milik perusahaan PT Lucky Samudera, dan juga panen rumput laut milik masyarakat di sekitar Pulau Karya. Kegiatan panen di PT Lucky Samudera tersebut menghasilkan sebanyak 3 ton untuk komoditas bawal bintang, 1 ton untuk komoditas kakap putih dan 1 ton untuk komoditas udang vaname. Kegiatan panen dilakukan dengan intensitas 4 kali dalam satu minggu.

Edhy menilai kegiatan panen komoditas unggulan marikultur ini, mengindikasikan mulai adanya proses pemulihan kondisi ekonomi secara global. Hal itu, terutama berkaitan dengan terbukanya permintaan pasar khususnya untuk komoditas ekspor perikanan.

Edhy juga meyakini bahwa industri pangan, terutama ikan tidak akan lesu. Bahkan FAO mengatakan sektor industri secara keseluruhan memang turun 25 persen, tapi industri makanan justru diprediksi naik 25 persen.

Hal ini karena orang lebih suka masak dan sering makan selama menjalankan pola WFH (kerja dari rumah). “Oleh karenanya ini sebenarnya potensi besar, hanya pola hidup saja yang berubah, jadi tidak usah khawatir bahwa yang diproduksi tidak akan laku,” ucap Edhy.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Slamet Soebjakto menyatakan kegiatan ekspor rumput laut menandakan aktivitas bisnis sektor kelautan di Tanah Air terus melaju di tengah pandemi Covid-19. Ia berharap agar aktivitas ekspor rumput laut akan turut menyumbang devisa di tengah dampak ekonomi akibat COVID-19 yang mempengaruhi kinerja ekonomi nasional.

Tidak hanya rumput laut, ujar dia, komoditas lainnya seperti kerapu dan udang juga memberikan kepastian bahwa ekspor produk perikanan tetap berjalan dan prospektif di tengah pandemi. Slamet mengajak pula masyarakat pembudidaya untuk melakukan budidaya rumput laut dengan cara yang benar sesuai dengan SOP yang ada sehingga akan dihasilkan produk rumput laut dengan kandungan agar atau karagenan atau alginate yang bagus.

“Kita tahu sebelumnya market rumput laut kita didominasi ke China dan Filipina. Terbukanya ekspor ke Vietnam, ini akan menaikkan nilai ekonomi jenis Spinosum yang sangat potensial di Indonesia. Artinya akan lebih banyak masyarakat yang terlibat dalam usaha budidaya rumput laut ini,” ujarnya.

Pada 2019, tercatat nilai ekspor rumput laut Indonesia mencapai 324,84 juta dolar AS atau tumbuh 11,31 persen dibanding tahun 2018 yang mencapai 291,83 juta dolar. Sementara KKP menargetkan tahun 2020 produksi rumput laut mencapai 10,99 juta ton dan diproyeksikan mencapai 12,33 juta ton pada tahun 2024.

Source : Republika.co.id


JAKARTA, KOMPAS.com – Semenjak ada pandemi Covid-19, tren berbelanja di masyarakat berubah. Biasanya selama bulan Ramadhan tahun-tahun lalu orang-orang akan berbelanja secara offline. Namun, pada bulan Ramadhan tahun ini, tren berbelanja bergeser ke online.

Pergeseran tren ini membuat perusahaan logistik di Indonesia mencatatkan kenaikan penjualan, keuntungan, sehingga mereka mematok target penjualan yang cukup besar.

COO Paxel Zaldhy Ilham Masita mengatakan, selama bulan Ramadhan tahun ini, Paxel menargetkan transaksi meningkat sebesar 100 persen.

“Target kami 100 persen selama Ramadhan tahun ini dan kami menargetkan angka melihat karena ada dampak dari larangan mudik sehingga pengiriman makanan menjadi lebih tinggi,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Senin (18/5/2020).


(ADS) Smart Logistics Indonesia 2021 adalah pameran logistik terintegrasi. Jika anda tertarik untuk mempelajari dan mendapatkan informasi lebih lanjut silahkan download Sales Prospectus 2021 secara gratis klik di link ini dan jika tertarik menjadi eksibitor, tinggal klik link ini untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi +62 21 2263 8635 atau info@smartlogistics.id


Sementara itu, perusahaan logistik JNE menargetkan adanya kenaikan transaksi hingga 30 persen.

Presiden Direktur JNE Mohammad Feriadi mengatakan bahwa ia yakin target tersebut tercapai lantaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) diterapkan dan tidak memengaruhi proses pengiriman barang.

“Kami optimis selama Ramadhan ini bisa sampai 20 persen atau 30 persen,” kata dia.

Angka yang sama juga ditargetkan oleh perusahaan ekspedisi SiCepat Ekspres.

Chief Marketing Officer SiCepat Ekspress Wiwin Dewi Herwati mengatakan, pihaknya menargetkan transaksi pengiriman SiCepat Ekspress naik hingga 30 persen. Jika dibandingkan dengan tahun 2019,  SiCepat Ekspres mencatatkan adanya kenaikan transaksi sebesar 64 persen selama bulan Ramadhan.

Oleh sebab itu, SiCepat Ekspress menggelar beberapa program untuk biaya tarif pengiriman untuk menggaet minat pengiriman dari masyarakat.

Source : Kompas.com


KOMPAS.com – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) terus berupaya menjaga angkutan barang logistik berjalan lancar di tengah pandemi Covid-19 yang melanda wilayah di Indonesia.

Hal itu untuk menjaga ketersediaan logistik nasional khususnya kebutuhan dasar masyarakat, sehingga perekonomian dan kesejahteraan masyarakat tetap terjaga.

Adapun Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa masa pandemi jangan sampai menghambat distribusi logistik seperti bahan-bahan pokok, barang-barang penting untuk kegiatan ekonomi, obat-obatan, dan alat-alat kesehatan.

Upaya tersebut sebagai langkah agar tidak terjadi kelangkaan barang yang mengakibatkan harga-harga naik dan akhirnya dapat menyebabkan inflasi.

Oleh karena itu Kemenhub berupaya memastikan angkutan logistik tidak boleh stop beroperasi, seperti tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 18 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi dalam rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19.

Aturan berikutnya juga dituangkan dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Musim Mudik Idul Fitri 1441 H.

Dalam aturan tersebut disebutkan bahwa angkutan barang logistik termasuk yang dikecualikan dari larangan sementara beroperasinya transportasi di masa pandemi Covid-19.

Sementara itu Kemenhub tetap konsisten bahwa yang dilarang yakni kegiatan bertransportasi untuk mudik.

Sedangkan kegiatan lain seperti angkutan barang/logistik dan kegiatan yang kriteria dan syaratnya memenuhi Surat Edaran Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 tetap diizinkan dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat.

Untuk memastikan distribusi logistik tidak terganggu, upaya lain yang dilakukan Kemenhub yakni membuka operasional prasarana transportasi seperti pelabuhan selama 24 jam.

Selain itu mendorong penerapan insentif atau stimulus bagi pelaku usaha, dengan cara memberikan stimulus bagi pelaku usaha pelayaran dengan memberikan potongan tarif, maupun lama waktu penumpukan kontainer atau muatan di pelabuhan selama terjadinya pandemi Covid-19.

Dalam pelaksanaannya Kemenhub juga terus berkoordinasi dengan asosiasi di sektor transportasi, Indonesian National Shipowners Association (INSA) misalnya.

Hal tersebut untuk memastikan agar jadwal baik kapal komersial maupun subsidi Public Service Obligation (PSO) tetap berjalan lancar.

Hasil pantauan di lapangan menunjukkan, sampai saat ini distribusi logistik baik melalui moda transportasi darat, laut, udara, dan kereta api berjalan dengan baik. Sehingga pasokan ketersediaan logistik tetap terjamin dan harga-harga barang pun tetap terkendali.

Pada moda transportasi darat sebanyak 258 ribu lebih kendaraan barang logistik telah melewati posko pemantauan di Gerbang Tol Cikarang Barat mulai sejak diterapkannya Permenhub 25/2020.

Kendaraan barang logistik mendominasi jumlah kendaraan yang diperbolehkan untuk melintas yaitu 57,04 persen dibandingkan dengan kendaraan lain seperti kendaraan dinas Pemerintah (42,74 persen) dan kendaraan darurat (0,23 persen).

Sementara moda transportasi laut yang diandalkan untuk mengangkut barang logistik hingga ke pelosok-pelosok daerah beroperasi penuh di seluruh pelabuhan selama masa darurat Covid-19, dari wilayah Barat sampai Timur Indonesia.

Penyelenggaraan angkutan tol laut tahun ini pun dipastikan tetap berjalan dengan total 26 trayek.

Keberadaan kapal-kapal tol laut masih sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia khsususnya di wilayah timur Indonesia, sehingga harga-harga barang kebutuhan pokok dan barang penting tetap terjangkau.

Hingga 17 April 2020 tercatat sebanyak 74 voyage dengan realisasi muatan berangkat sebesar 2.841 Teus dan muatan balik 665 Teus.

Selain kapal tol laut, pelayaran perintis juga tetap berjalan khususnya yang mengangkut kebutuhan logistik masyarakat di wilayah tertinggal, terpencil, terluar dan perbatasan.

Adapun total trayek tersebut yaitu 113 trayek di Tahun Anggaran 2020. Kapal subsidi Pemerintah lain seperti Kapal Ternak juga tetap beroperasi mengangkut hewan ternak dengan total 6 trayek di Tahun Anggaran 2020.

Tercatat, hingga 17 April 2020, ada sebanyak 18 voyage dengan muatan hewan ternak sebanyak 7.251 ekor sapi, kambing dan kuda.

Selain itu, pada transportasi udara dilaporkan bahwa penerbangan beroperasi secara penuh untuk mengangkut logistik seperti kebutuhan pangan, sample infectious substance, dan medical supplies.

Selain menggunakan penerbangan khusus Kargo, pengangkutan kargo juga dapat dilakukan dengan pesawat konfigurasi penumpang yang telah memiliki izin terbang dan wajib untuk mematuhi protokol kesehatan.

Dalam catatatannya, pergerakan kargo udara domestik rata-rata mengangkut 1000 sampai 2000 ton, sementara untuk kargo udara internasional rata-rata mengangkut 200 sampai 750 ton.

Terakhir, moda transportasi kereta api sebagai ngkutan logistik juga pantang berhenti melayani di tengah pandemi Covid-19.

Salah satu pilihan untuk mengakomodasi barang dengan jumlah besar adalah dengan menggunakan kereta api.

Melalui kereta api waktu pengiriman barang lebih dapat diprediksi terlebih dalam masa pandemi ini.

Sebagai regulator bidang transportasi, Kemenhub terus fokus pada penyediaan transportasi khususnya untuk angkutan barang logistik dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat.

Hal tersebut merupakan komitmen Kemenhub dalam upaya memastikan ketersediaan barang logistik yang penting tetap terjaga demi kesejahteraan masyarakat Indonesia.


(ADS) Smart Logistics Indonesia 2021 adalah pameran logistik terintegrasi. Jika anda tertarik untuk mempelajari dan mendapatkan informasi lebih lanjut silahkan download Sales Prospectus 2021 secara gratis klik di link ini dan jika tertarik menjadi eksibitor, tinggal klik link ini untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi +62 21 2263 8635 atau info@smartlogistics.id


Source : Kompas.com


Disaat konsentrasi seluruh elemen bangsa dipusatkan pada upaya penanganan pandemi Covid-19, pemerintah masih menyisipkan isu logistik sebagai salah satu stimulus kebijakan yang harus tetap dikerjakan.

Usai rapat terbatas Penataan Ekosistem Logistik Nasional pada 18 Maret 2020 lalu, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa jika kita bisa fokus pada peta jalan yang yang jelas dan target yang terukur, maka Indonesia akan memiliki layanan logistik yang murah dan cepat dengan biaya yang transparan dan kompetitif, sehingga sistem logisik Indonesia akan menjadi lebih efisien. Lebih lanjut Menko Hartarto menjelaskan bahwa penugasan untuk mempercepat penerapannya diberikan oleh Presiden kepada Kementerian Keuangan.

Penugasan kepada Kementerian Keuangan untuk mempercepat penataan Ekosistem Logistik Nasional merupakan keputusan yang tepat, karena Kementerian Keuangan memiliki dua unit kerja yang sangat dekat dengan kegiatan logistik, yaitu Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dan Lembaga National Single Window (LNSW). DJBC adalah garda terdepan pemerintah dalam urusan perdagangan internasional, sedangkan LNSW merupakan unit organisasi yang khusus dibentuk untuk mempercepat integrasi proses bisnis layanan pemerintah di bidang ekspor dan impor kedalam sistem Single Window. Dalam melaksanakan tugas penataan Ekosistem Logisik Nasional ini, paling tidak ada tiga hal utama yang perlu mendapat perhatian.


(ADS) Smart Logistics Indonesia 2021 adalah pameran logistik terintegrasi. Jika anda tertarik untuk mempelajari dan mendapatkan informasi lebih lanjut silahkan download Sales Prospectus 2021 secara gratis klik di link ini dan jika tertarik menjadi eksibitor, tinggal klik link ini untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi +62 21 2263 8635


Pertama, kolaborasi layanan pemerintah dengan platform logistik swasta. Ekosistem Logistik tidak akan bisa dipisahkan dari ketersediaan sistem berbasis elektronik yang handal untuk memperkuat integrasi layanan pemerintah dan menghubungkan layanan pemerintah tersebut dengan platform-platform berbasis elektronik yang dimiliki oleh para pelaku usaha di bidang logistik.

Proses layanan pemerintah harus didisain untuk menyelesaikan seluruh persayaratan yang harus dipenuhi oleh para pelaku usaha dalam satu rangkaian proses yang tidak terputus. Dengan demikian pelaku usaha cukup melakukan transaksi melalui satu interface pada sistem Single Window yang selanjutnya akan meneruskannya kepada sistem-sistem layanan pada kementerian dan lembaga terkait, sampai keseluruhan proses dapat diselesaikan. Penggunaan sistem Single Window secara utuh akan memunculkan transparansi proses bisnis pada masing-masing kementerian dan lembaga pemerintah.

Jika terjadi kelambatan layanan, maka akan mudah diketahui di titik mana dari rangkaian layanan pemerintah tersebut yang mengalami kelambatan. Pada akhirnya, integrasi layanan ini akan memunculkan transparansi layanan publik yang didasarkan pada standar layanan yang mampu memenuhi kebutuhan para pelaku usaha.

Platform-platform logistik swasta akan dirangkul untuk berkolaborasi dengan layanan pemerintah, dimana output dari layanan pemerintah dapat menjadi input bagi platform-platform logistik ini, dan sebaliknya, sehingga keseluruhan proses logistik sejak dari hulu sampai ke hilir dapat dimonitor dengan baik. Hal ini akan meningkatkan transparansi transaksi dalam rangkaian proses logistik, dimana informasi tentang kebutuhan jasa logistik dan penawaran yang diberikan oleh para penyedia jasa disajikan secara transparan dalam kompetisi yang sehat.

Platform pembayaran secara elektronik juga perlu didorong untuk lebih optimal berperan dalam melayani kebutuhan dunia usaha, sehingga proses pembayaran, baik pelunasan pungutan-pungutan negara maupun pembayaran antar pelaku usaha dapat dilakukan dengan mudah tanpa dibatasi tempat dan waktu layanan.

Kedua, regulasi yang efisien dan standar layanan yang prima. Untuk mendukung efektifitas kolaborasi tersebut kementerian dan lembaga pemerintah harus menerbitkan regulasi yang efisien pula. Sistem elektronik dan regulasi yang efisien adalah dua hal yang saling membutuhkan. Sistem elektronik yang baik hanya akan mampu memberikan kinerja optimal jika didasarkan pada regulasi yang efisien pula, sebagaimana jargon garbage in-garbage out yang menjadi acuan dasar sebuah sistem elektronik. Jika regulasi yang dikeluarkan masih tidak efisien, maka bisa jadi sebuah sistem elektronik justru akan menjadi masalah bagi para penggunanya.

Untuk menyempurnakan sistem yang dikembangkan, kementerian dan lembaga pemerintah juga perlu melakukan pengaturan-pengaturan terkait penyediaan jasa logistik yang mampu mendorong kualitas jasa yang prima. Common practice dalam bisnis logistik internasional yang terbukti efektif akan diterapkan. Penggunaan internet on thing (IoT) sebagai media tracking keberadaan barang, standar kelayakan kendaraan dan gudang, standar biaya jika diperlukan, dan berbagai standar layanan lain akan mampu memenuhi kebutuhan akan jasa logistik yang berkualitas tinggi.

Faktor pendukung selanjutnya adalah penyediaan dan penataan infrastruktur pendukung logistik yang tepat. Efisiensi logistik tidak hanya mebutuhkan regulasi dan standar-standar yang baik, serta sistem elektronik yang handal, tetapi juga penyediaan dan penataan infrastruktur pendukung yang tepat. Contoh yang dapat dipertimbangkan adalah penataan infrastruktur pendukung seperti tata ruang di pelabuhan-pelabuhan, jalur kereta barang dan stasiun barang, penyediaan lahan parkir bagi kendaraan angkutan besar, penempatan depo-depo kontainer dan penyediaan terminal-terminal barang, seperti lazimnya penataan yang dilakukan di berbagai negara di dunia.

Ketiga, Strategi Penataan yang tepat.Presiden menyatakan bahwa peningkatan efisiensi kinerja logistik nasional sudah sudah diupayakan sejak 3-4 tahun lalu. Oleh karena itu strategi yang akan diterapkan harus mampu secepatnya menunjukkan hasil yang dapat dinikmati, mendahulukan pihak-pihak yang paling siap dan paling antusias untuk dilibatkan dalam pilot-pilot project untuk masing-masing utilitas yang dikembangkan, dan menjadikan utilitas yang sudah matang sebagai model untuk dikembangkan secara nasional.

Platform-platform logistik yang sudah siap akan dilibatkan dalam pilot project sambil bersama-sama mencari bentuk yang paling dapat memenuhi kebutuhan pemerintah dan pelaku usaha secara harmonis. Platform logistik juga akan menjadi filtering agent bagi pemenuhan standar-standar kelayakan yang dipersyaratkan pemerintah bagi pelaku usaha yang bergabung di dalamnya, sehingga pengguna jasa logistik akan mendapatkan layanan dengan standar yang tinggi.

Ekosistem Logistik Nasional juga memerlukan dukungan penuh dari pemerintah daerah, baik di tingkat propinsi maupun kabupaten/kota, sehingga komunikasi yang baik harus dibangun dengan pemerintah-pemerintah daerah. Sebagaimana dengan perlakuan terhadap platform-platform logistik, pemda-pemda yang lebih siap akan didahulukan dalam pilot project agar dapat secepat mungkin menemukan model penataan yang tepat. Untuk selanjutnya model ini akan dikembangkan pada daerah-daerah lain, sehingga ekosistem logistik dapat lengkap terbentuk, baik secara konten layanan maupun cakupan wilayahnya.

Well, membangun ekosistem logistik secara nasional bukanlah perkara mudah. Political will yang kuat sudah ditunjukkan pemerintah, dan kita berharap Kementerian Keuangan mampu mengoptimalkan perannya dalam meng-orkestrasi penataan Ekosistem Logistik Nasional dengan menarik dukungan dan mendorong partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan untuk bersama-sama merancang, mengembangkan dan menerapkan ekosistem logistik yang harmonis, ekosistem logistik yang membuat semua pihak yang terlibat didalamnya dapat tumbuh dan berkembang bersama untuk melahirkan sistem logistik nasional yang efisien. (ADV)

Source : merdeka.com


KONTAN.CO.ID –  JAKARTA. PT Global Jet Express (J&T Express) mencatatkan peningkatan volume pengiriman barang hingga 15% setelah ditetapkannya pembatasan sosial berskala besar di wilayah Jabodetabek guna mengurangi penyebaran virus Corona atau Covid-19.

Chief Executive Officer (CEO) J&T Express, Robin Lo mengatakan, volume pengiriman barang mengalami peningkatan secara nasional dari trafik normal setelah pandemi virus Corona merebak di Indonesia.

“Untuk volume pengiriman barang saat ini mengalami peningkatan bila dilihat secara keseluruhan di Indonesia. Namun, peningkatan ini tidak signifikan hanya 15% dari volume pengiriman normal sebelumnya mencapai rata-rata satu juta paket per hari,” ujar Robin kepada kontan, Jumat (08/5).

Selain itu, permintaan terhadap aktivitas logistik terutama jasa pengiriman ekspres di wilayah Jabodetabek masih ada, terutama guna memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah upaya tetap di rumah saja.

Namun Robin menyampaikan, sejak adanya aturan PSBB di sejumlah kota, dan adanya penyesuaian jumlah penerbangan memang pihaknya ikut terdampak dikarenakan salah satu jalur pengiriman yang J&T Express gunakan adalah jalur udara.


(ADS) Smart Logistics Indonesia 2021 adalah pameran logistik terintegrasi. Jika anda tertarik untuk mempelajari dan mendapatkan informasi lebih lanjut silahkan download Sales Prospectus 2021 secara gratis klik di link ini dan jika tertarik menjadi eksibitor, tinggal klik link ini untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi +62 21 2263 8635


Source : Supplychainindonesia.com


JAKARTA, KOMPAS.com – Di tengah kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar ( PSBB) dan larangan mudik, beberapa perusahaan ekspedisi mengalami lonjakan permintaan. Salah satunya PT Satria Antaran Prima Tbk (SAPX).

Presiden Direktur PT SAP Express Tbk Budiyanto Darmastono mengatakan selama PSBB diterapkan, transaksi yang dicatatkan perseroan mengalami peningkatan hingga 30 persen.

“Alhamdulillah bisnis pengiriman di SAP Express mengalami peningkatan yang bagus. Kami catat sekitar 20 persen hingga 30 persen dan mungkin bakal meningkat lagi,” ujarnya saat presconference Halal Plaza Digital yang dilakukan secara virtual, Selasa (5/5/2020).

Budi menambahkan salah satu faktor pendorongnya adalah tingginya belanja online menjelang Lebaran.


(ADS) Smart Logistics Indonesia 2021 adalah pameran logistik terintegrasi. Jika anda tertarik untuk mempelajari dan mendapatkan informasi lebih lanjut silahkan download Sales Prospectus 2021 secara gratis klik di link ini dan jika tertarik menjadi eksibitor, tinggal klik link ini untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi +62 21 2263 8635 atau info@smartlogistics.id


“Mungkin karena banyak orang yang tidak keluar rumah, kemudian untuk persiapan Lebaran orang-orang banyak yang berbelanja secara online,” katanya.

Selama bulan Ramadhan ini, SAP Express menargetkan transaksi lebih dari 30 persen. Jika dilihat dari tahun-tahun sebelumnya memang transaksi selama bulan Ramadhan meningkat sebesar 30 persen.

“Saya optimis di bulan Ramadhan transkasi di SAP Express bisa meningkat lagi lebih dari 30 persen, doakan saja,” pungkasnya.

Source : kompas.com


Liputan6.com, Jakarta Pengelolaan arus logistik melalui pelabuhan atau terminal oleh PT Pelabuhan Indonesia III (Persero) masih berjalan lancar sesuai target. Bahkan ada kecenderungan mengalami peningkatan dibandingkan dengan kinerja pelabuhan.

Pertumbuhan tersebut terjadi karena beberapa jurus relaksasi dan stimulus yang diberikan Pelindo III kepada pelaku logistik agar lebih bergairah untuk menggenjot kegiatan ekspor impor dan domestik.

Sebagai operator pelabuhan yang mengoperasikan 43 terminal/pelabuhan, arus petikemas Pelindo III secara keseluruhan hingga April 2020 mengalami kenaikan. Ya kenaikan sebesar satu persen atau sekitar 1,6 juta Twenty foot Equivalent Units (TEUs), dibandingkan pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Direktur Utama Pelindo III Doso Agung mengatakan, hingga April 2020 Pelindo III mencatat kenaikan kinerja khususnya pada arus kapal dan petikemas. Ia menjabarkan lebih lanjut pada arus kapal terjadi peningkatan sebanyak tiga persen yaitu 94,7 juta GT.

“Terjaganya kinerja positif jasa kepelabuhanan ini berkat komitmen Pelindo III bersama para pengusaha dalam upaya menjaga logistik. Di sisi lain, Pelindo III juga terus menjaga layanan operasional dengan tetap beroperasi selama 24 jam dalam 7 hari (24/7) sebagai komitmen menjaga kelancaran logistik Indonesia sehingga pelayanan aktivitas kepelabuhanan tetap terlayani dengan baik,” tegas Doso.

Ditemui ditempat terpisah, Stenven H Lesawengen Ketua DPC INSA jawa Timur mengapresiasi relaksasi dan stimulus yang diberikan oleh Pelindo III karena dapat membantu para pelaku logistik di tengah pandemi Covid-19.

“Dengan berbagai inovasi dan terobosan yang diberikan ini dapat menyemangati kami untuk menjaga iklim usaha logistik baik ekspor/ impor maupun domestik. Terima kasih Pelindo III selalu mengedepankan komunikasi yang cair dengan kami stakeholder dimana hal tersebut merupakan faktor penting dalam mewujudkan layanan prima dan perbaikan berkesinambungan,” tambahnya.


(ADS) Smart Logistics Indonesia 2021 adalah pameran logistik terintegrasi. Jika anda tertarik untuk mempelajari dan mendapatkan informasi lebih lanjut silahkan download Sales Prospectus 2021 secara gratis klik di link ini dan jika tertarik menjadi eksibitor, tinggal klik link ini untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi +62 21 2263 8635 atau info@smartlogistics.id


Penanganan ABK Diperketat

Sementara itu, dalam upaya memerangi penyebaran Covid-19 di kawasan pelabuhan, Pelindo III bersama Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) menerapkan Standard Operating Procedure (SOP), sesuai protokol kesehatan khusus bagi kapal yang akan masuk ke kawasan pelabuhan.

Semua ABK wajib dicek kesehatannya secara langsung di atas kapal (on board) sebelum masuk ke alur menuju pelabuhan.

Sesuai dengan Surat Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan Republik Indonesia nomor: SR.03.04/3/3508/2020 tanggal 23 Maret 2020 perihal Penetapan Status Karantina untuk Kapal atau Pesawat yang Berasal dari Wilayah Terjangkit di Indonesia, Pelindo III memastikan seluruh kapal yang akan sandar dan labuh telah melewati berbagai tahapan pemeriksaan sesuai standar yang berlaku.

“Hingga saat ini, kami bersama KKP telah bekerja sama dalam penanganan Covid-19 di pelabuhan secara ketat dan semua dapat berjalan lancar. Apabila ditemukan ada crew atau ABK yang terindikasi Covid-19, maka kapal tersebut akan ditempatkan di areal labuh dan mengikuti protokol kesehatan penanganan Covid-19,” lanjut Doso.

Selain di area operasional, upaya pencegahan juga dilakukan di kantor Pelindo III dengan pemeriksaan suhu badan, mewajibkan setiap pekerja dan tamu menggunakan masker, penerapan physical distancing hingga penyediaan hand sanitizer dan minuman multivitamin bagi seluruh pegawai yang beraktivitas.

Pihaknya juga mewajibkan seluruh pegawai operasional menggunakan masker dalam beraktivitas guna mengurangi risiko penyebaran Covid-19.

“Dengan upaya tersebut, diharapkan kekuatan SDM dalam mengoperasikan pelabuhan/terminal dapat terjaga dan kegiatan kepelabuhanan bisa tetap dijalankan 24/7 non-stop sehingga tidak mengganggu pasokan logistik,” tutupnya.

Source : Liputan6.com