Digitalisasi Pelabuhan, Solusi Ketimpangan Aktivitas Logistik

Bisnis.com, JAKARTA – Supply Chain Indonesia (SCI) menilai digitalisasi platform di pelabuhan dan sektor logistik harus mampu memecahkan masalah ketidakseimbangan sebaran aktivitas logistik.

Chairman Supply Chain Indonesia Setijadi mengatakan saat ini terjadi ketidakseimbangan sebaran aktivitas logistik, yang dengan berbagai hal seperti penempatan depo kontainer yang lebih dekat ke wilayah pelabuhan dibandingkan dengan wilayah kawasan industri, sebaran galangan kapal yang mayoritas di wilayah barat dan tengah, serta pertumbuhan ekonomi yang terfokus di Pulau Jawa.

“Intinya Indonesia perlu kembangkan platform digitalisasi bagaimana antara sinergi semuanya, sebisa mungkin bisa menyerap kepentingan para pelaku, ujungnya bisa capai sistem logistik efisien,” jelasnya, Rabu (17/6/2020).


(ADS) Smart Logistics Indonesia 2021 adalah pameran logistik terintegrasi. Jika anda tertarik untuk mempelajari dan mendapatkan informasi lebih lanjut silahkan download Sales Prospectus 2021 secara gratis klik di link ini dan jika tertarik menjadi eksibitor, tinggal klik link ini untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi +62 21 2263 8635 atau info@smartlogistics.id


Menurutnya, ketidakseimbangan muatan terjadi karena aktivitas logistik didominasi angkutan darat, sementara pelabuhan tetap memegang faktor penting terutama di aktivitas logistik internasional karena berkisar 90 persen aktivitas logistik internasonal diisi oleh transportasi laut. Volume yang tidak seimbang ini karena pertumbuhan ekonomi yang tidak merata dan berpusat di pulau Jawa, dengan kontribusinya terhadap PDB 2019 mencapai 59 persen.

Dengan demikian, lanjutnya, digitalisasi pelabuhan dan sektor logistik mesti dapat menjawab permasalahan riil di lapangan tersebut dan perlu adanya sinergi antar pemangku kepentingan guna membentuk satu platform bersama yang terintegrasi. Pertumbuhan ekonomi yang terpusat di Pulau Jawa mengakibatkan inefisiensi transportasi laut Indonesia karena kekurangan muatan balik dari wilayah-wilayah dengan pertumbuhan ekonomi rendah, terutama di Kawasan Timur Indonesia.

Dia menuturkan perlu pengembangan potensi komoditas unggulan di masing-masing wilayah dan pembangunan industri dan ekonomi wilayah. Adapun, untuk jangka panjang, perlu perencanaan dan implementasi secara sistemik dan sistematis dengan melibatkan para pihak terkait.

Di sisi lain, ujarnya, konektivitas antarwilayah belum terbangun secara merata, sehingga pembangunan infrastruktur perlu terus dilakukan dalam kerangka peningkatan konektivitas nasional, termasuk untuk sektor logistik.

“Perlu perencanaan pembangunan infrastruktur secara terintegrasi, baik antar moda transportasi maupun antar wilayah, sehingga lebih menjamin efektivitas pemanfaatannya,” urainya.

Source : Bisnis.com

Share this post