Kolaborasi Logistik Pintar di Pandemi Perlu Dipercepat

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) memacu inovasi dan transformasi bisnis di masa pandemi virus corona sehingga proses digitalisasi dapat memudahkan para pelaku bisnis untuk melakukan kegiatannya.

Ketua Umum DPP ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi mengatakan seharusnya sudah tidak ada masalah terkait pengembangan smart logistic atau logistik pintar.

Terlebih, kata dia, pemerintah telah memiliki konsep National Logistics Ecosystem untuk arus lalu lintas barang (flow of goods) dan arus dokumen (flow of documents).


(ADS) Smart Logistics Indonesia 2021 adalah pameran logistik terintegrasi. Jika anda tertarik untuk mempelajari dan mendapatkan informasi lebih lanjut silahkan download Sales Prospectus 2021 secara gratis klik di link ini dan jika tertarik menjadi eksibitor, tinggal klik link ini untuk informasi lebih lanjut bisa hubungi +62 21 2263 8635 atau info@smartlogistics.id


Oleh karena itu, Yukki menekankan pentingnya kolaborasi plaftorm digital menjadi satu ekosistem akan membuat sinergi yang mulus di antara para pemangku kepentingan baik pemerintah maupun swasta.

“Intinya kata kuncinya adalah kolaborasi di mana konektivitas digital ini bisa dilakukan secara seamless dan end to end tanpa ada proses intervensi manual. Karena dalam era keterbukaan saat ini tidak ada yang bisa bergerak sendiri dan dibutuhkan kolaborasi baik dari dalam maupun luar negeri,” jelasnya, Senin (15/6/2020).

Pemerintah, kata dia, sejak lima tahun terakhir, mengejar ketertinggalan di bidang infrastruktur dengan memberikan perhatian lebih pada pembangunan infrastruktur di seluruh negeri. Selain itu pemerintah juga telah memperluas konektivititas digital berupa perluasan jaringan internet.

Pada 2020 pembangunan Palapa Ring akan menyasar 57 kabupaten/kota dengan BTS 2100 last mile. Konektivitas fisik dan konektivitas digital ini hanyalah modal awal dan perlu diikuti oleh kebijakan-kebijakan lanjutan lainnya.

Berkenaan dengan ini beberapa kebijakan telah dibuat Bea Cukai untuk memperlancar proses logistik dan perdagangan internasional. Kebijakan-kebijakan itu antara lain advance manifest system, export simplification for CBU Vehicles, web-based import and export system, export simplification for CPO and drivatives, D/O Online System, elektronik SKA, TPS Online System, serta autogate system.

Walaupun demikian, peringkat LPI (Logistics Performance Index) Indonesia pada tahun 2018 masih berada di bawah Malaysa (41), Vietnam (39), Thailand (17) dan Singapura (7), di mana Indonesia menempati urutan ke 46.

“Hal ini disebabkan belum adanya platform digital yang mempertemukan pelaku usaha sektor logistik dari sisi permintaan dan persediaan, sehingga timbul informasi asimetris,” jelasnya.

Sejalan dengan hal tersebut, di atas pemerintah melalui Kementerian Keuangan sedangkan mengembangkan National Logistc Ecosystem (NLE) di CEISA.

Fungsi dari NLE di CEISA adalah mempertemukan pelaku usaha logistik baik ekspor maupun impor di dalam satu platform untuk saling bertukar informasi dengan konsep API (Application Programming Interface).

Saat ini Alfi telah membangun kolaborasi ekosistem melalui pengembangan digitalisasi Smart Logistics, kolaborasi platform yang dibangun dalam Website ALFI dan terkoneksi dengan platform digital yang disebut Digico.

Pengembangan tersebut telah dilakukan secara bertahap, saat ini modul yang siap adalah modul impor, ekspor, track and trace, yang telah mencakup lebih dari 150 negara, selanjutnya pengembangan rantai pasok sampai dengan ke pengiriman cepat (last mile delivery).

Tahap awal Track and Trace yang saat ini dikembangkan tentunya meliputi transportasu laut, darat dan udara

Selanjutnya ALFI mengembangkan pergudangan, depo dan data exchange (pertukaran data) cross border tak lupa sektor Perbankan dan Asuransi untuk menunjang Trade Financing.

Source : Bisnis.com

Share this post